टेक्निक SABLON

2.1 Mengenal Alat dan Bahan
Untuk mencetak sablon, anda membutuhkan beberapa alat dan bahan yang menunjang. Berikut beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan.
Alat
1. Alat Pokok
a. Screen (kain gasa)
Screen (kain gasa) adalah kain sablon yang berfungsi sebagai sarana pembentuk cetak gambar di atas benda-benda yang disablon. Teksturnya sangat halus (seperti sutera) dan memiliki jumlah kerapatan pori-pori yang bertingkat. Jumlah kerapatan inilah yang berfungsi menyaring atau menentukan jumlah tinta yang keluar melalui media screen. Oleh karena itu, cetak sablon sering disebut sebagai sistem cetak saring.
Kain screen adalah sarana utama dalam cetak sablon. Tanpa screen, sistem percetakan tidak dapat dilaksanakan. Banyak jumlah kain screen yang bisa digunakan, tetapi jenis nytal, monly, dan nybolt paling memenuhi syarat sebagai kain gasa yang baik. Ketiganya memiliki sifat tahan terhadap zat-zat kimia, tahan terhadap berbagai kondisi, serta memiliki tegangan dari 5---7 %.
Ketegangan screen 5---7 % adalah nilai yang terbaik yang digunakan saat penyablonan. Dibawah nilai itu, screen akan terlalu kendor sehingga pada waktu digesek dengan rakel, garis-garis gambar yang tercipta atau yang tercetak bergeser dari yang semestinya. Jika di atas nilai itu, screen yang digunakan akan mudah robek.


3
b. Meja Sablon
Meja sablon atau meja cetak yang digunakan adalah khusus meja cetak saring. Daun meja atau fondammen sistem cetak saring harus rata, licin, dan datar. Umumnya , dibuat dari kaca yang agak tebal, tetapi bisa juga terbuat dari logam, kayu, atau formika. Rancang bangunannya khusus untuk cetak saring dengan pasisi engsel cetak yang sejajar dengan permukaan bidang fondammen. Syarat meja yang baik, antara lain harus tahan guncangan atau gerakan dan mempunyai rak dua susun untuk lampu penerangan.

c. Bingkai Saringan (screen frames)
Fungsi bingkai saring adalah untuk merentangkan kain saring, sekaligus menjadi wadah tinta cetak. Bisanya, bentuk saringan adalah empat persegi panjang. Bingkai saringan harus kuat dan kaku supaya ukurannya tidak terlalu cepat berubah. Bahan yang digunakan untuk bingkai screen adalah aluminium dan kayu.

d. Penjepit Screen Sheet ( penyekat / catok )
Sarana yang satu ini berfungsi sebagai penghubung antara screen sheet (bingkai screen) dengan meja cetak. Pada bagian siku yang terdapat uliran sebagai penjepit bingkai screen, dipakai engsel untuk dihubungkan dengan meja. Dengan demikian, screen sheet dengan mudah dapat digerakkan naik turun pada waktu melakukan prosese penyablonan, akibatnya, pekerjaan dapat dipercepat serta menjamin kesetabilan sasaran cetak (terutama pada waktu melakukan penyusunan warna).





4
e. Pelapis (coater)
Coater adalah alat untuk mengolesakan atau melapisi emulsi sablon ke screen. Biasanya, alat ini terbuat dari alumunium berbentuk mangkuk persegi dua sisi dengan ketebalan bebeda, menurut keburuhna ketebalan lapisan emulsi pada screen. Sisi yang tebal digunakan untuk pelpisan emulsi yang tebal, sedangkan sisi yang tipis untuk pelapisan emulsi yang tipis.

f. Rakel (squeegee)
Rakel berguna untuk menekan tinta pada kain saring ke kertas atau bahan lain yang akan disablon. Hal-hal yang harus diperhatikan dari rakel adalah jenis bahan, kekrasan bahan, ukuran, dan bentuk ujung rakel.
Bahan rakel bisa terbuat dari karet alam, tetapi karet alam mudah rusak karena beraksi dengan pelarut yang digunakan. Selain itu, karet juga mempunyai umur yang pendek. Bahan lain yang dapat digunakan plastk (sintetik). Bahan ini sudah banyak digunakan, contohnya palstik polyurethane atau polyvinyl. Kelebihan bahan ini adalah tidak terpengaruh oleh kelembaban udara, suhu, maupun bermacam-macam bahan pelarut. Jadi, mempunyai umur yang panjang.

2. Alat Penunjang
a. Hair dryer (kipas angin)
Alat ini berfungsi untuk mengeringkan emulsi pada saat afdruk. Hair dryer mempunyai tiupan angin panas yang mengenai permukaan screen tidak berlebih, jarak antara hair drayer dengan permukaan screen 15---20 cm. Benang-benang screen akan meleleh jika panas yang mengenai screen berlebih. Jika anada menggunakan kipas angina, alat ini dapat diletakkan sedekat mungkin dengan screen karena tidak menghasilakan embusan angin panas.

5
b. Penyemprot Air (water spray)
Alat ini digunakan saat prosese pengembangan. Perlu diketahui, penyemprot air mempunyai bebrapa pilihan semprotan, mulai dari yang halus sampai tajam. Setiap pengembangan kadang dibutuhkan tekanan semprotan yang berbeda tergantung model yang dicetak, yaitu model raster atau garis.

Bahan
1. Bahan Pracetak
Bahan pracetak adalah bahan-bahan yang digunakan dalam proses pengalihan gambar model ke screen. Saat ini, bahan yang digunakan untuk proses pracetak sudah banyak dipasarkan sehingga peminat sablon pemula maupun professional dengan mudah memperolehnya.
Biasanya, bahan ini terdiri dari dua botol dalam satu kemasan dus. Kemasan botol besar biasa disebut dengan emulsi, sementara kemasan botol kecil disebut dengan sensitizer (cairan peka cahaya).
Emulsi berfungsi sebagai bahan yang melapisi screen untuk proses pembuatan screen pada gambar pada screen (afdruk). Stensitizer berfungsi sebagai bahan campuran emulsi yang bersifat peka cahaya. Bahan ini akan terbakar jika terkena sinar ultraviolet (UV). Cara kerja sensitizer adalah menguatkan bagian yang terkena sinar UV dan melemahkan bagian yang tidak terkena sinar UV .
Dalam penggunaanya, bahan emulsi dan sensitizer dicampur dengan perbandingan 9 : 1. Selain itu, bisa juga dengan perkiraan takaran yang penggunaanya disesuaikan sesuai kebutuhan. Beberapa contoh bahan emulsi yang ada dipasaran, anatara lain Chromalin, Ulano, Atosai dan Uno.
Beikut ini bahan yang digunakan dalam proses ini:



6
a. Kaporit atau cairan pemutih pakaian
Bahan ini berfungsi menghapus screen setelah digunakan untuk proses pencetakan. Bahan ini bersifat korosif atau merapuhkan benda dalam cucian sehingga tidak dianjurkan merendamnya terlalau lama. Perendamamnya dapat dilakukan sekitar tujuh menit. Perendaman yang terlalu lama mengakibatkan kain screen menjadi rapuh dan mudah sobek.

b. Ulano X
Ulano X adalah bahan berupa cairan merah untuk menguatkan emulsi pada screen yang akan digunakan untuk mencetak. Penggunaanya dengan mengoleskan pada sisi dalam dan luar screen dengan bantuan kapas. Selain itu, keringkan dibawah sinar matahari selama dua jam.
Mengingat sifat ulano X adalah menguatkan emulsi (mematikan emulsi) maka kualitas emulsi yang digunakan akan lebih baik screen yang tidak terlapisi.

c. Lakban
Lakban adalah solatip atau bahan perekat yang terbuat dari bahan sintetik. Selain digunakan untuk menutup, bagian-bagian yang tidak ditimbulkan.

d. Krim deterjen (sabun colek)
Krim deterjen digunakan pada saat pencucian, baik sebelum screen digunakan (screen baru) maupun yang sudah. Detejen berperan penting untuk menghilangkan sisa minyak pengecer yang masih melekat pada screen sehingga kain screen akan benar-benar bersih dan terhindar dari minyak. Jika cairan minyak masih tertingggal pada screen maka ketika screen kan kembali digunakan pada saat pengolesan emulsi (obat afdruk).

7
Bagian yang seharusnya menempel atau mengikat emulsi malah akan tertahan minyak. Emulsi tidak akan menempel pada screen sehingga pada satat penyemprotan dengan air (proses pengembangan) bagian tersebut akan berlubang.

e. Screen laquer
Screen laquer adalah cairan yang digunakan untuk menutup bagian-bagian yang tidak digunakan untuk tembus tinta. Fungsi screen laquer serupa dengan lakban, tetapi hasil prosese pencetakannya lebih rapi. Tinta yang disablonkan akan tetap pada daerah yang seharusnya tembus tinta (image area) dan tidak keluar atau merembes pada daerah yang seharusnya tembus tinta (nonimage area).
Cara penggunaan cairan ini adalah dengan cara mengoleskannya langsung pada daerah yang tidak diinginkan tembus tinta. Pengolesan dapat dilakukan dengan menggunakan lidi, cotton bud, kuas ataupun bilah bambu tipis, sebelum dapat anda gunakan, tunggu beberapa saat sampai kering. Pengeringan dapat digunakan dengan kipas angin.

2. Bahan Proses Cetak
Bahan untuk proses cetak adalah bahan pokok yang digunakan untuk proses penyablonan. Bahan ini terdiri dari tinta dan pengencer. Ada dua jenis tinta, yakni tinta water base dan tinta sovent base.
Tinta water base adalah tinta yang berbasis air. Jika akan mencetak dengan tinta ini harus menggunakan air sebagai bahan campuran. Lain halnya dengan solvent base, bahan campurannya adalah minyak.

2.2 Proses Pracetak
Ada beberapa tahap proses pracetak yang harus Anda lakukan, yaitu pembuatan model dan pengeksposan. Berikut tahap-tahap tersebut.

8
Pembuatan Model (klise)
Klise adalah lembaran yang digunakan sebagai acuan cetak. Pembuatan klise dapat dibagi dalam dua tahap penyiapan. Pertama, penyiapan bahan untuk model dan tahap kedua cara pembuatan model.
1. Bahan model
Bahan model dapat menggunakan kertas, plastic, mika, astralon, dan plastic film. Prinsipnya, bahan ini harus transparan sehingga ketika pengeksposan dilakukan (penyinaran), area yang seharusnya tidak tembus tinta akan terkena sinar secara utuh tanpa terkurangi intensitasnya oleh keburaman bahan (opasitas). Dengan demikian, bagian yang seharusnya tembus tinta akan tertutup sinar dengan sempurna pada saat proses pengeksposan.

2. Pembuatan model
Pembuatan model dapat dilakukan dengan cara manual, langsung, setting computer, dan fotografi.
a. Manual
Cara manual dipandang paling efisien, baik waktu ataupun biaya. Teknik yang digunakan sangat sederhana, yaitu dengan mengoleskan kertas yang bergambar model yang akan dicetak dengan minyak kelapa atau minyak tanah. Model dapat digambar di kertas dengan spidol permanent, boxy, dan rapido. Pensil tidak dianjurkan, mengingat goresan pensil tidak dapat menutup gambar model dengan sempurna dan akan ikut transparan jika diolesi minyak.

b. Langsung
Cara langsung dapat dilakukan dengan menggambar langsung model gambar pada screen, selanjutnya, area yang tidak digunakan tembus tinta, diolesi emulsi yang sudah tercampur dengan sensitizer. Dengan begitu,

9
hanya daerah yang diolesi emulsi yang nantinya tidak tembus tinta.
Setelah selesai, proses pengolesan dikeringkan dan bisa langsung digunakan untuk dicetak.

c. Setting komputer
Pembuatan model dilakukan dengan menggunakan komputer. Model didesain dan dicetak menggunakan printer. Sebaliknya, pilih printer laser karena kualitas gambar yang dihasilkan lebih baik dan lebih tajam daripada menggunakan printer bukan laser. Tentunya, cara ini relative lebih praktis dan dapat menghasilkan desain gambar yang lebih Variatif.

d. Fotografi
Penggunaan model dengan teknik fotografi paling baik diantara ketiga teknik sebelumnya. Haya prosesnya agak lama dan kurang praktis. Model yang akan dibuat, terlebih dahulu dirancang manual dan setting computer. Selanjutnya, gambar yang akan dihasilkan dipotret. Cara ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas gambar dari model yang akan dicetak. Gambar akan lebih tajam dengan detail yang jelas. Dengan catatan, model yang dihasilkan dari teknik fotografi harus berupa positif film (gambar hasil pemotretan).

Pengeksposan
Pengeksposan disebut juga afdruk atau penyinaran, yakni pemindahan gambar dari model ke screen dengan bantuan bahan yang disebut emulsi sablon. Berikut ini diuraikan tahap-tahap pengesposan.

1. Pelapisan (coatig)
a. Campur emulsi dengan sensitizer (obat afdruk siap pakai), lalu aduk hingga bercampur rata.

10
b. Lapiskan campuran dalam bentuk jel langsung pada screen dengan bantuan alat yang disebut coater (pelapis). Selain itu, bisa juga menggunakan mika, kotak kaset atau penggaris plastik yang memiliki sisi rata agar proses pelapisan yang dilakukan benar-benar rata. Tujuannya, agar saat pengesposan model gambar menempel dengan rata pada screen.

2. Pengeringan awal (start driying)
Pengeringan dilakukan setelah proses pelapisan, yaitu dengan bantuan hair dryer atau kipas angin.Perlu diingat, penggunaan hair dryer tidak boleh terlalu dekat dengan permukaan screen. Pada saat pengeringan, upayakan agar tidak terkena sinar matahari atau sinar yang mengandung UV, seperti sinar lampu neon. Jika terjadi, emulsi akan terbakar dan tidak dapat dipakai untuk proses selanjutnya. Sebaliknya, gunakan sinar yang berasal dari bohlam atau lampu neon yang dilapisi dengan filter merah untuk penerangan karena filter merah bersifat mereduksi sinar UV.

3. Penyinaran (eksposing)
Penyinaran dilakukan untuk memindahkan gambar dari film positif (gambar positif) ke dalam screen. Penyinaran dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan bantuan sinar matahari dan menggunakan meja afdruk.

4. Pengembangan (developing)
Pengembangan merupakan kelanjutan dari proses penyinaran. Pengembangan dilakukan untuk memperjelas gambar yang dihasilkan pada proses penyinaran. Proses ini terdiri dari dua tahap, yaitu proses stop bath (penghentian reaksi) dan proses pengembangan.

5. Tustir (correcting)
Tustir adalah proses koreksi untuk menutup bagian-bagian yang tidak diinginkan tembus tinta. Bahan yang digunakan adalah sisi emulsi sablon atau
11
screen laquer langsung pada bagian-bagian yang tidak diinginkan untuk tembus tinta. Sisa emulsi sablon digunakan dengan pertimbangan menghemat waktu dan biaya sehingga tidak perlu membuat campuran kembali.

6. Pengeringan akir (finish drying)
Pengeringan akhir dilakukan dengan cara hampir sama dengan pengeringan awal (start drying). Bedanya, pengeringan akhir dapat dilakukan dengan cara menjemur. Penjemuran dilakukan hingga emulsi kering.

2.3 Proses Pencetakan
Sebelum melakukan proses pencetakan, persiapkan dulu alat-alat yang akan digunakan. Beberapa tahap dalam persiapan alat, dinataranya adalah pemilihan screen, pemilihan tinta, dan pemilihan rakel.
Pemilihan Screen
Pemilihan kain screen penting dilakukan agar hasil cetak maksimal. Agar hasil cetak lebih maksimal harus ada kesesuaian anatara media, bahan cetak, serta tinta yang digunakan. Pemilihan kain screen yang tidak benar akan berakibat fatal. Sebagai gambaran, pemilihan kerapatan screen yang tidak sesuai menyebabakan gambar atau teks menjadi blok, bahkan gambar tidak akan tercetak (tampak). Agar hasil cetak menjadi lebih bagus, screen yang baik harus memenuhi syarat kerapatan dan ketebalan.

1. Kerapatan
Kerapatan adalah jumlah lubang atau pori-pori screen dalam 1 cm. Semakin jumlah pori-pori dalam 1 cm akan semakin sedikit tinta yang disalurkan. Sebaliknya, jumlah pori-pori yang sedikit akan menyalurkan tinta lebih banyak. Ukuran kerapatan dinyatakan dengan huruf dan angka.
Pada umumnya, screen digolongkan berdasarkan sasaran penggunaan dengan pembagian ukuran nomor kerapatan.
a. Screen berukuran 61 T – 90 T, merupakan screen kasar yang digunakan untuk mencetak benda-benda yang menyerap cat.
b. Screen berukuran 120 T – 150 T, merupakan jenis screen sedang yang digunakan untuk mencetak benda-benda (setengah menyerap cat).
c. Screen berukuran 165 T – 200 S, merupakan jenis screen halus yang digunakan untuk mencetak benda-benda yang tidak menyerap cat.

Simbol T menunujukkan bahwa screen agak keras dan sedikit kaku, sedangkan simbol S menunjukkan bahwa kondisi screen lebih halus, semakin rendah nomor kerapatan screen, semakin besar lubang pori-porinya. Begitu juga sebaliknya. Namun, hal demikian tidak mutlak sebagai ukuran, mengingat tuntutan desain dan bahan yang akan dicetak.

2. Ketebalan
Ketebalan kain screen mempengaruhi tebalnya tinta yang dipindahkan pada bahan yang akan dicetak. Semakin tebal kain screen, semakin tebal tinta yang dihasilkan pada bahan cetak. Sebaliknya, semakin tipis kain screen, semakin tipis pula tinta yang dihasilkan pada bahan cetak. Ukuran ketebalan kain screen yang digunakan tergantung pada jenis pekerjaan penyablonan yang dilakukan. Misalnya, untuk pekerjaan halftone, yaitu pekerjaan penyablonan untuk gambar-gambar yang mempunyai tingkat warna yang mendekati warna asli. Contohnya, dalam pembuatan separasi maka screen dengan ketebalan S paling cocok digunakan. Ketebalan kain screen dinyatakan dalam huruf sebagai berikut :
S = Small (thin). Benang-benangnya tipis, sehingga cocok untuk pekerjaan halftone (nada lengkap) dan gambar-gambar orang.
M = Medium. Benang-benangnya berukuran medium sehingga cocok pekerjaan halftone yang kasar.
T = Tick. Benag-benangnya tebal sehingga cocok untuk segala macam pekerjaan.
HD = Heavy duty. Benang-benang ekstra tebal sehingga lebih banyak digunakan untuk pekerjaan denagn mesin, mencetak blok yang besar, dan pekerjaan kasar atau besar.

3. Jenis-Jenis Kain Screen
Berikut ini beberapa jenis kain screen (kain saring) yang namun digunakan untuk mencetak sablon yaitu :
a. Kain sutera
b. Kain monofilament
c. Kain multifilament
d. Kain polyester
e. Kain nylon
f. Kain stainless stell

4. Warna kain
Selama penyinaran, sinar (baik dari matahari atau lampu) memantul dari kain yang berwarna putih. Pemantulan disebut “ halation “, yang menyebabkan gambar atau stensil menjadi tidak tajam, detail-detail gambar yang hilang atau tidak jelas. Beberapa kain monofilamen dapat mengatasi masalah ini, yaitu dengan pemakaian kain yang berwarna.

5. Pemasangan kain screen pada bingkai
Sebelum kain saring dipasang, bingkai harus dibersihkan. Biasanya, permukaan bingkai agar kasar agar kain saring mudah menempel. Kain saring harus benar-benar ditarik dan kencang karena kain yang kendor menyebabkan beberapa masalah sebagai berikut :
a. Stensil tidak mau menempel pada screen.
b. Emulsi tidak mau menempel dengan rata dan sulit dicuci.
c. Sulit mendapatkan ketepatan yang tinggi pada waktu mencetak.

Untuk mengetahui apakah kain saring telah terlentang dengan baik pada bingkai, lemparkan uang logam ke atas kain. Jika uang logan mementul kembali, berarti rentangan kain sudah baik. Namun, agar lebih tepat gunakan alat pengukur tegangan kain saring tensiometer.

Perentangan Kain Screen
Berikut ini beberapa cara untuk perentangan kain screen pada bingkai.
Perentangan kain dengan staple
Teknik ini sangat mudah dan murah. Untuk bingkai besar, misalnya ukuran kertas setengah piano, perekatan kain dapat dilakukan dua orang agar kain dapat ditarik kencang-kencang. Pada teknik ini, selain kawat dapat juga menggunakan paku biasa.
Berikut cara yang digunakan untuk merentangkan kain saring dengan staple :
a. Siapkan bahan dan alat yang digunakan, yaitu bingkai untuk kain screen, kain saring, lem serba guna, staple, palu, dan kuas.
b. Oleskan lem pada salah satu sisi panjang dan sisi pendek bidang screen.
c. Tempelkan kain screen dengan merentangkannya.
d. Oleskan lem pada sisi panjang dan sisi pendek lainnya, lalu tempelkan dan rentang kain screen hingga kencang dan tepat sesuai dengan ketegangan yang diinginkan.
e. Gunting sisa kain screen hingga ukurannya tepat dengan bingkai.
f. Paku (staple) keempat ujung bingkai agar kain saring terlentang sempurna.
g. Staple permukaannya, lakukan dengan rata pada seluruh permukaan bingkai dan kain saring betul-betul menempel pada bingkai. Tutup deretan staple dengan kertas lem agar bingkai terlihat rapi.
h. Balik bingkai, rekatkan selotape (lebar 2,5 cm) pada tempat sisi dalamnya.
i. Oleskan lak sekitar 2 cm dari selotape agar tahan air. Percetakan dimulai kurang lebih 5 cm dari pinggir bingkai, jadi masih ada cukup ruang untuk lak.

Perentangan dengan tali

B. Pemilihan Tinta
Pemilihan tinta dilakukan dengan menyesuaikan karakter bahan yang akan dicetak. Secara garis besar, pemilihan tinta dikatagorikan dua hal sebagai berikut :
1. Kemampuan tinta bereaksi terhadap bahan yang akan dicetak
2. Daya tahan tinta terhadap sinar matahari.

Selain itu berdasarkan kegunaannya tinta dikatagorikan sebagai berikut :
a. Tinta tekstil
Tinta tekstil mempunyai dua karakter berdasarkan hasil cetak akhir, yaitu tinta timbul dan tinta tidak timbul.
b. Tinta nontekstil
Tinta nontekstil adalah tinta yang digunakan untuk semua bahan cetak selain yang terbuat dari kain atau tekstil. Penggunaan dipakai menjadi beberapa bagian menurut bahan yang akan dicetak sebagai berikut :
a. Tinta kertas
b. Tinta plastik
Tinta plastic dibedakan menjadi empat macam yaitu :
1. Tinta link
2. Tinta high gloss
3. Tinta sintesis
4. Tinta high gloss dan sintesis
c. Tinta kaca atau keramik
d. Tinta kayu
e. Tinta kulit
f. Tinta logam

Pemilihan Rakel
Pemilihan rakel dimaksudkan untuk saat pencetakan tinta yang dialirkan sesuai dengan kebutuhan bahan. Misalnya, jika bahan membutuhkan tinta sedikit, sebaiknya menggunakan rakel yang berujung lancip. Sebaiknya, jika membutuhkan tinta banyak, Anda dapat menggunakan karet berujung bunder. Berikut ini hal-hal yang menentukan pemilihan rakel :
1. Kekerasan bahan rakel
Pada umumnya bahan yang lunak dan tumpul banyak mengalirkan tinta pada media cetak, sedangkan bahan yang keras dan tajam mengalirkan lebih sedikit tinta dan akan mempercepat pengeringan. Kekerasan raket rakel dinyatakan dalam derajat kekerasan shore.Rakel lunak (50 – 55 %) digunakan jika tinta dipindahkan dalam jumlah banyak, seperti pada penyablonan diatas kaindan botol. Rakel ekstra untuk lunak mempunyai kekerasan antara (45 – 50 %) shore. Rakel mediunm (60 – 65 %) digunakan untuk pekerjaan di atas kertas atas karton dan untuk pekerjaan umum lainnya. Rakel keras (70 – 75 %) digunakan untuk percetakan yang tidak membutuhkan tinta yang tebal, misalnya untuk penyablonan dengan mesin atau rakel ekstra keras mempunyai kekerasan antara 80 – 85 % shore.
2. Ukuran rakel
Rakel terdiri dari dua bagian yaitu pisau yang terbuat dari karet atau plastik dan pegangan yang biasanya terbuat dari kayu atau aluminium. Rakel yang pegangannya 12,5 cm digunakan untuk orang dewasa dan untuk industri, sedangkan rakel yang memiliki pegangan 10 cm digunakan untuk anak-anak.
3. Bentuk untuk rakel
Bentuk ujung rakel antara lain :
a. Rakel dengan pinggiran persegi untuk percetakan di atas benda datar, seperti kertas dan karton. Bentuk ini memberikan tekanan yang banyak antara objek yang dicetak dengan screen.
b. Rakel dengan ujung bundar untuk memindahkan tinta dalam jumlah banyak. Selain itu, digunakn untuk mencetak dengan tinta fluorescent.
c. Rakel dengan satu sisi miring untuk menyablon di atas gelas atau plastik keras, seperti kaca serta plat nama datar dengan permukaan yang halus dan jumlah tinta yang dipindah sedikit.
d. Rakel dengan dua sisi miring untuk menyablon di atas benda-benda berbentuk silinder atau permukaan tidak rata, seperti botol atau kain dengan desain penuh detail.
e. Rakel dua sisi miring dengan ujung datar yang digunakan untuk menyablon diatas benda seperti keramik. Bentuk ini memindahkan banyak tinta.
f. Reakel sisi bulat yang digunakan untuk menyablon di atas kain karena nemindahkan banyak tinta.

Sebaiknya, panjang rakel 5 cm lebih panjang dari objek yang akan dicetak agar tnta yang akan bisapukan pada kain screen menghasilkan gambar atau hasil cetak yang lebih sempurna. Jika panjang rakel lebih kecil atau terlalu pas dengan luasan areal, hasil cetakan akan cacat dan kurang baik karena rakel tidak menyapu tinta secara sempurna

Bidang dan Teknik Cetak
Bidang cetak adalah permukaan bahan yang dicetak. Pada dasarnya, teknik cetak sablon dapat diterapkan untuk mencetak di semua media. Namun, syaratnya benda tersebut memiliki permukaan yang rata.
Bidang cetak secara garis besar dapat dibagi dua yakni, bidang datar dan bidang lengkung.
1. Bidang datar
Bidang datar adalah bentu permukaan dari barang yang akan dicetak bersifat datar dan tidak melengkung. Bidang datar ini antara lain dapat berupa kertas, lembaran, kaca, plat, plastic, dan kayu.
2. Bidang lengkung
Bidang lengkung adalah bidang bahan cetak yang memiliki bentuk permukaan atau kontur yang melengkung, seperti gelas, botol, mug, dan kaleng.
Teknik mencetak adalah cara yang digunakan untuk melakukan pencetakan pada suatu bidang datar dan lengkung. Teknik cetak ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu langsung (direct print) dan tidak langsung (indirect print). Direct print adalah teknik cetak yang digunakan langsung pada bahan cetak, sedangkan indirect print adalah teknik pemindahan gambar melalui media perantara, misalnya kertas khusus atau plastik perantara.
Pada prinsipnya, teknik cetak direct dan indirect dapat diterapkan pada bidang datar maupun lengkung. Hanya secara khusus penerapannya disesuaikan sesuai dengan bahan dan desain yang akan dicetak. Dengan demikian, trknik mencetak dapat dikatagorikan berdasarkan bahan atau bidang yang akan menjadi sasaran cetak, yakni teknik mencetak pada bidang datar dan teknik mencetak pada bidang lengkung.
1. Teknik mencetak pada bidang datar
Teknik ini adalah teknik yang paling dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemula karena teknik cetak lain merupakan pengembangan dari teknik mencetak pada bidang datar.
Berikut tahap-tahap yang dilakukan untuk mencetak pada bidang datar.
a. Siapkan screen yang telah diafdruk ke meja dengan menggunakan penjepit atau catok.
b. Siapkan rakel sesuai dengan areal cetak dan tinta yang digunakan.
c. Tuangkan tinta secukupnya di sisi yang dekat dengan catok, sesuai warna yang digunakan.
d. Sapukan langsung tinta ke meja kaca.
e. Nyalakan lampu yang ada di bawah meja kaca.
f. Siapkan kertas yang ketebalannya sama dengan bahan cetak sebagai penepat depan dan samping, lalu lakukan penepatan bahan yang akan dicetak sesuai dengan posisi yang diinginkan. Tempelkan penepat depan dan samping. Setelah yakin penepat terpasang dengan baik, pencetakan sudah dapat dilakukan.

Sebagai catatan, penyapuan tinta dilakukan searah ke depan, lalu lanjutkan dengan penyapuan tinta ke belakang. Caranya, tarik tinta yang ada di depan menggunakan rakel untuk mengisi areal cetak dengan tekanan yang tidak terlalu kuat. Usahakan agar penyapuan dan pengisian tinta dilakukan dengan tekanan yang stabil agar hasil cetakan mempunyai ketebalan dan warna yang konstan.
Cara di atas dilakukan untuk pencetakan bahan-bahan yang tipis dan tembus cahaya. Namun, jika bahan yang akan disablon tidak tembus cahaya, cara yang digunakan sedikit berbeda, terutama pada pemasangan penepat (anlag) .
a. Siapkan bahan kertas atau plastik yang tembus cahaya dan mempunyai ukuran lebih besar dari bahan yang akan dicetak. Selanjutnya, tempelkan salah satu sisi bahan ke meja sablon dengan lakban.
b. Lakukan pencetakan ke bahan tersebut.
c. Setelah kering, tepatkan bahan yang akan dicetak di bawah kertas atau plastik yang akan dicetak.
d. Setelah sesuai dengan posisi yang diinginkan, pasang penempat di depan samping objek yang aka dicetak.
e. Setelah yakin posisi anlag tidak berubah, pencetakan dapat dilakukan sesuai oplah. Bahan anlag bisa karton, karet busa, atau disesuaikan dengan bahan yang tersedia. Dengan catatan, anlag harus lebih tipis atau sama dengan objek atau benda yang akan disablon. Jika anlag lebih tebal dari benda yang akan dicetak maka screen bisa sobek dan kedua gambar di sisi yang berhimpitan dengan anlag tidak akan tercetak.

2. Teknik mencetak pada bidang lengkung
Teknik mencetak pada bidang lengkung merupakan pengembangan dari teknik mencetak pada pada bidang datar. Pada teknik ini, bidang media yang akan dicetak relatif lebih sulit karena permukaan bidangnya tidak datar sehingga memerlukan teknik khusus untuk menyablonnya.
Bidang lengkung yang menjadi sasaran cetak, antara lain memiliki permukaan cekung, cembung, serta kombinasi antara cekung dan cembung. Berikut tahap-tahap yang dilakukan pada teknik mencetak pada bidang cembung.
a. Siapkan screen yang sudah diafdruk, posisi screen bebas atau tidak perlu dipasang pada meja sablon.
b. Tuangkan tinta secukupnya di bagian dalam screen, tetapi tidak boleh terlalu banyak atau encer agar tinta tidak menetes di meja.
c. Sapu tinta dengan rakel pada bagian dalam.
d. Balikkan screen hingga bagian dalam berada di bawah.
e. Lakukan pencetakan pada bidang lengkung dengan cara menekan pada permukaan screen bagian luar.
2.4 Proses Finishing
Finishing merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian proses pencetakan. Dalam proses ini, ada beberapa proses pengerjaan akhir, seperti venis, embus, ponc, binding/jilid.
A. Vernis
Jika mengnginkan hasil cetak yang lebih mengkilap, Anda bisa melakukan pencetakan ulang di atas permukaan bahan yang sudah tercetak dengan vernis. Vernis adalah bahan berupa jel atau cairan kental yang berwana kuning bening dengan sifat melapisi serta membuat cetakan lebih awet.

B. Embos
Embos dimaksudkan untuk memberikan kesan timbul pada cetakan. Teknik yang dapat digunakan adalah teknik cetak tinggi. Mesin yang digunakan mempunyai cara kerja yang sederhana, yaitu dengan menekan bahan cetak diantara dua klise atau acuan yang sering disebut matrise dan patrise. Matrse adalah klise berupa plat dari timah dengan cetakan permukaan ke dalam. Sebaliknya, patrise merupakan cetakan dengan permukaan menonjol.

C. Ponc
Ponc digunakan untuk memperoleh bentuk bahan cetak yang sesuai dengan gambar atau desain yang diinginkan. Alat yang digunakan berupa belah pisau baja yang dapat dibentuk menurut desain yang diinginkan.

D. Biding (jilid)
Biding adalah teknik yang digunakan untuk pekerjaan penjilidan buku. Berikut ini beberapa macam teknik biding (jilid).
a. Jilid kawat
Jilid kawat adalah sistem jilid yang menggunakan kawat sebagai pengikat antara lembaran buku yang satu dengan lainnya. Alat yang digunakan bisa menggunakan staples atau mesin jilid kawat khusus.

b. Jilid lem
Jilid lem menggunakan cairan perekat berupa lem untuk merekatkan setiap lembar dengan yang lainnya menjadi sebuah buku. Jilid ini bisa digunakan untuk penjilidan nota, kuitansi, atau buku yang bersifat sementara.

c. Jilid spiral
Jilid ini menggunakan kawat atau plastik berbentuk spiral. Biasanya, digunakan untuk jenis cetakan atau buku yang bisa dibolak-balik tanpa merusak bahan cetakan, seperti memo, note book, kalender, atau agenda.

d. Jilid benang atau jahit
Pada dasarnya, teknik jilid benang sama dengan yang digunakan pada teknik lainnya. Hanya dalam pengerjaannya lebih rumit karena membutuhkan ketelatenan dan kerapian dalam merangkai lembar yang satu dengan lembar yang lainnya menggunakan benan.Teknik jahit ini bisa digunakan untuk buku-buku yang memiliki ketebalan diatas 300 halaman

0 Komentar Posting Blog